Assalamu’alaikum…wr…wb…
Selamat
pagi.. semangat pagi..!!!
Haiii….
Si mpunya blog muncul lagi.
Oke,
saya mau curhat, mau nyepam di blog. Ceritanya saya sedang menempuh pendidikan
lagi, yaitu Pendidikan Profesi Guru (PPG). Alhamdulillah bisa kuliah S1,5 (kan
S1 sudah selesai, dan S2 belum dikejar sama beasiswa). Doakan ya, semoga saya
bisa S2.. aamiin..
Berhubung
hati dan otaknya diasah saat PPG ini, jadi untuk posting agak berkurang
intensitasnya *Padahal mah alesan aja tuh.
Iya
nih, lagi ngerasa sedang diasah otak dan hatinya.Kalau otak, you know lah, kalau
kuliah itu otaknya musti ekstra kerja. Lalu, kenapa hatinya diasah juga? Nah..
ini bakalan panjang kalau dijawab,,hhee.. pokoknya saya sedang berusaha untuk
menjadi orang yang lebih ‘peka’ pada lingkungan sosial, lebih berempati dan
bersimpati.. gitu lah. Kepribadian seseorang dipengaruhi dengan lingkungannya,
dengan siapa dia bergaul, dengan siapa dia berinteraksi.
Bersyukur
Allah pertemukan saya dengan orang-orang yang ‘peka’, jadi saya bisa belajar
lebih dari mereka. Yaps,,, bahwasanya akhir-akhir ini saya dibilang “sok sinetron”
oleh beberapa orang, sebenarnya that’s
real, bahwa saya sempat akan mengundurkan diri (sudah sempat tekan tombol
pilihan “Mengundurkan Diri”) dari program ini. Mengingat bahwa di sekolah
tempat saya mengajar, saya memiliki tanggung jawab yang sangat besar menurut
saya. Mengingat bahwa “Siapa yang akan mengajar anak-anak (Anak Berkebutuhan
Khusus) dengan ‘hati’?”. Mengingat “Siapa yang punya potensi baik mendidik
anak-anak sedangkan saya tahu bagaimana kualitas yang lain?”. Mengingat “Siapa
yang akan mengerjakan tugas-tugas?”. Dan pemikiran-pemikiran lain tentang
“Ketidaktegaan meninggalkan anak-anak, orangtua murid, dan sekolah”.
Tidak
ada manusia yang tahu bagaimana isi hati orang lain. Tetapi kita bisa tahu
“perwujudannya” dari perilaku yang muncul, dari ucapan yang muncul, dari
ekspresi yang muncul. Maafkan saya yang tidak pandai mengungkapkan kepada semua
orang secara ekspresif bagaimana “ketidaktegaan saya meninggalkan sekolah”.
Namun, saya berterimakasih kepada orang-orang yang mengerti saya walaupun saya
tidak pandai mengungkapkannya secara lisan. Terimakasih atas supportnya.
Pada
akhirnya saya membatalkan menekan pilihan “Mengundurkan Diri”. Aahhhhh…. Untuk
orang yang tingkat kepekaannya seperti saya saja merasakan hal ini sangat
berat, bagaimana dengan mereka-mereka yang hidupnya penuh feeling. Saya sedikit
paham dengan perasaan mereka. Dia menguatkan (padahal dia juga sama
perasaannya) bahwa “Ayo selesaikan PPG dan kembali untuk memberikan ilmu dari
PPG ini untuk anak-anak”. Yuk, sama-sama semangat menjalankan kegiatan PPG ini
(walau masih ada hal-hal yang abstrak dan agak absurd sama program ini). #colek si Ekstrovert.
0 komentar:
Posting Komentar